Apa itu Vertical Drainage

Apa itu Vertical Drainage ? – Menurut beberapa informasi yang kami dapatkan dari berbagai sumber, pengertian dari Vertical Drainage ini lebih ke arah sistem perairan yang biasa dikenal dengan istilah PVD ( Prefabricated Vertical Drainage yang merupakan salah satu metode yang banyak dipakai untuk mendesain sistem perairan dari bahan yang disebut dengan geosintetik.

Bagi anda yang belum tahu mengenai pengertian dari Vertical Drainage ini, sebenarnya prinsip umum dari Vertical Drainage ini memiliki fungsi dalam memotong jarak aliran horizontal menjadi lebih dekat sehingga mengalami konsolidasi tanah.

Metode Vertical Drainage ini umumnya banyak diterapkan oleh para pekerja teknik yang penerapannya untuk kondisi tanah yang lunak atau lentur dengan tujuan agar tanah lebih kuat sebagai pondasi, contohnya saja pembangunan Bandara Udara Ahmad Yani yang membutuhkan sistem Vertical Drainage.

Jika lihat dari sejarahnya sendiri, sistem Vertical Drainage ini memang memperkenalkan proses Drainage yang terjadi pada kolom-kolom pasir dengan tujuan untuk stabiliasi tanah yang keadalamannya bisa disesuaikan, penelitian yang sudah dilakukan pada tahun 1925 membawa keberhasilan dalam mengatasi beberapa proyek pembangunan pada waktu itu.

Bahkan di Amerika metode Vertical Drainage sudah dikenal sejak tahun 1944 yang pada saat itu dipakai untuk pekerjaan penimbunan dalam pembuatan atau proyek pembangunan jalan raya, tanggul dan beberapa proyek reklamasi pantai.

Sedangkan pada tahun 1936, diperkenalkan sistem vertikal yang menurut para ilmuwan bahan utama dari metode ini berasal dari sintetis yang kita kenal dengan istilah Geosintetik.

Prinsip Kerja Vertical Drainage

Secara umum untuk prinsip kerja dari Vertical Drainage ini lebih memberikan laku konsolidasi yang lebih rendah pada jenis tanah lempung dengan tujuan permeablitasi yang rendah, sehingga nantinya bisa dinaikkan menggunakan metode ini dengan harapan bisa memperpendek lintasan perairan pada jenis tanah lempung.

Selanjutnya, konsolidasi ini harus memperhitungkan juga kondisi lokasi agar perairan bisa berjalan dengan baik. Umumnya tujuan Vertical Drainage ini untuk mengurangi panjang lintasan peraingan, maka jarak antara Drainage juga cukup penting untuk dipertimbangkan dengan baik. Jarak antara drainasi tersebut harus lebih kecil daripada tebal lapisan lempung dan tidak ada gunanya menggunakan drainasi vertikal dalam lapisan lempung yang relatif tipis. Untuk mendapatkan desain yang baik, koefisien konsolidasi horisontal dan vertikal (Ch dan Cv) yang akurat sangat penting untuk diketahui.

Biasanya rasio Ch /Cv terletak antara 1 dan 2, semakin tinggi rasio ini, pemasangan drainasi semakin bermanfaat. Nilai koefisien untuk lempung di dekat drainasi kemungkinan menjadi berkurang akibat proses peremasan (remoulding) selama pemasangan (terutama bila di-gunakan paksi), pengaruh tersebut dinamakan pelumasan (smear).

Efek pelumasan ini dapat diperhitungkan dengan mengasumsikan suatu nilai Ch yang sudah direduksi atau dengan menggunakan diameter drainasi yang diperkecil. Masalah lainnya adalah diameter drainasi pasir yang besar cenderung menyerupai tiang-tiang yang lemah, yang mengurangi kenaikan tegangan vertikal dalam lempung sampai tingkat yang tidak diketahui dan menghasilkan nilai tekanan air pori berlebihan yang lebih rendah dan begitu pula halnya dengan penurunan konsolidasi.

Efek ini minimal bila menggunakan drainasi cetakan karena fleksibilitasnya. Pengalaman menunjukkan bahwa drainasi vertikal tidak baik untuk tanah yang memiliki rasio kompresi sekunder yang tinggi, seperti lempung yang sangat plastis dan gambut, karena laju konsolidasi sekunder tidak dapat dikontrol oleh vertikal drain.

Jenis-Jenis Vertical Drainage yang perlu anda ketahui

Adapun jenisnya, Vertical Drainage ini memiliki beberapa tipe atau jenis yang perlu anda ketahui dengan baik. Beberapa pembagian Vertical Drainage berdasarkan pada jenis material yang dipakai adalah Vertical Drainage konvensional dan Vertical Drainage sinstesis.

1. Vertical Drainage konvesional

Secara umum untuk tipe ini lebih banyak digunakan karena bahan yang biasa dipakai itu sand drain atau pasir, sedangkan umumnya material yang paling sering dipakai dalam metode konvensional lebih ke pasir dan kerikil dengan permeabilitas yang tinggi.

Metode konvesional ini dibuat dengan cara sistem lubang bor pada lapisan tanah lempung dan kemudian mengurug kembali dengan pasir yang ukuran diameternya harus disesuaikan sekitar 200 – 400 mm dengan kedalaman mencapai 30 meter.

Pasir yang dipakai dalam proses ini adalah jenis pasir yang mudah dialiri oleh air sehingga efisien dalam embawa banyak partikel halus. Penggunaan Drainage cetakan ini lebih banyak dipakai dibandingkan penggunaan Drainage urugan khusus untuk beberapa daerah tertentu saja. Salah satu contoh dari Drainage cetakan itu adalah Drainage prapaket yang terdiri dari selubung filter, yang terbuat dari Polypropylene dengan diameter 65 mm.

2.Vertical Drainage sintetik

Kemudian jenis kedua yang akan kita bahas adalah verfikal Drainage jenis sintetik yang bisa dikategorikan dalam beberapa  kelompok seperti Vertical Drainage dari bahan plastik, Vertical Drainage dari bahan pasir yang kemudian dibungkus dengan material dari bahan sintetik, vertikal drainse dari serabut kelapa dan Vertical Drainage dari bahan karton.

Umumnya jenis ini memiliki bentuk seperti strip ataupun komponen utama yang dipakai berasal dari inti plastik yang bisa dibungkus dengan material sintestis. Fungsi plastik dari material ini memiliki tujuan yaitu sebagai penyalur air ataupun pembungkus filtering untuk partikel tanah yang halus.

Sekian informasi mengenai sistem kerja dari Vertical Drainage yang perlu anda ketahui, semoga informasi ini bisa bermanfaat untuk anda semuanya. Kami harap bisa menyajikan konten yang benar-benar bermanfaat dan memberikan edukasi terbaik bagi anda semuanya. Sekian dan Terimakasih.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *